[Review] Novel: Geek in High Heels

gihh

Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Halaman: 208 halaman, paperback

ISBN: 9876027572

Sinopsis:

Athaya membuka Blog-nya dan membuat sebuah post baru:

Hai….. Nama saya Athaya. Seorang web designer. Yup, saya memang geek, tapi saya juga stylish; suka koleksi high heels dan memadankannya dengan cat kuku. Saya sedang cari pacar, eh calon suami. Kalau kamu tertarik, feel free to comment ya. Oh ya, umur saya 27 tahun. Sekarang kamu ngerti kan kenapa saya membuat iklan cari jodoh seperti ini?Yes, I’m absolutely pathetic. Problem?! Oke, saya mencari cowok ganteng—

Athaya melirik ke arah cowok berkacamata yang duduk jeda beberapa meja darinya. Cowok itu kelihatan seperti cowok canggung yang manis.

Oke, saya mencari cowok ganteng, berkacamata, menarik, usia tidak boleh lebih dari 35 tahun dan bukan duda, bukan suami orang, bukan selingkuhan orang, dan straight.

Athaya menghela napas, menyesap kopinya, dan meng-klik tombol: Publish!

 

Review:

Baca lebih lanjut

[Review] Novel: Pay It Forward

25318229.jpg

Sinopsis:

Tedjas
Astaga, gadis itu sudah gila. Pasti! Gue nggak pernah berminat untuk komentar di status orang di Facebook, apalagi ikut-ikutan dalam permainan apa pun. Tapi, gadis itu bilang apa tadi? Pay It Forward? Cih, permainan apa itu?

Gitta
Aku nggak pernah mengira bisa membenci seorang pria, seperti aku membenci Tedjas. Sejak pertama bertemu, dia selalu bersikap menyebalkan. Seakan belum cukup, dia juga menghinaku habis-habisan di depan banyak orang. Semakin jauh jarak terbentang di antara kami, itu semakin baik! Itu yang Tedjas dan Gitta pikirkan. Tapi ketika rasa cinta menggedor semakin kuat, sanggupkah mereka berdua tetap berpura-pura bahwa kedekatan itu tak pernah nyata?

Baca lebih lanjut

Apples Weekly: Apel Pengubah Hidup

image

Apa yang kaupikir tentang superhero? Selain hebatnya mereka membela kebenaran, mereka juga memiliki pasangan sendiri. Tetapi kami tidak. Kami cukup memiliki masing-masing. Ya, ini kisah kami, asal mula Apples Ranger.

Namaku Dya, Green Apple. Suatu hari, sebuah apel berwarna hijau tiba-tiba muncul di kamarku. Maksudku “tiba-tiba”, benar-benar tiba-tiba. Secara harafiah. Karena sedetik sebelumnya tak ada apa pun di tempat apel itu berada. Yang lebih menyebalkan, apel itu muncul di saat aku sedang kelaparan dan tak ada apa pun di dapur. Membuatku terpaksa memakannya.

Tiba-tiba androidku berbunyi. Ada sebuah ajakan dari grup aneh di whatsapp, bernama Apples. Berlambang apel merah.

Ralat, bukan ajakan. Aku secara otomatis terdaftar di dalamnya. Tanpa bisa keluar.

“Halo, Dya. Mulai detik ini kau terpilih menjadi Green Apple. Welcome to the family.”

Kata sambutan itu tertera atas nama Chie, sang Ratu Apple. Jika para pimpinan ranger biasanya yang merah, Chie adalah Yellow Apple. Warna itu semata-mata dipilih karena favoritnya.

Ketika aku menuntut penjelasan akan semua yang terjadi padaku, Chie hanya menjawab singkat, “Aku takkan menjelaskannya.”

Apa?! Dia serius?!

“Tapi aku akan menunjukkannya.”

Ooh. Eh tunggu! Apa dia bilang?

Belum sempat berpikir lebih jauh, layar androidku berpendar kehijauan. Lalu layarnya seolah melebar, membuka portal aneh, dan menyedotku ke dalamnya.

Putih. Lalu warna mulai mengisi setiap inchi, menampakkan sebuah pemandangan memilukan di mana dunia dikuasai monster jeruk. Dan sesuatu yang lebih sulit dipercaya: perbudakan hewan peliharaan!

Aku bahkan bersumpah barusan melihat Mue, kucing jantan kesayanganku, sedang dipaksa menarik gerobak berisi air bersih. Aku mengucek mataku. Berkali-kali. Aku pasti sudah gila atau aku sedang bermimpi.

“Kau tidak gila. Juga tidak sedang bermimpi. Ini adalah masa depan. Dan kita bertarung dengan waktu untuk mencegah para monster jeruk menindas hewan-hewan seimut itu.”

Aku berbalik, demi menemukan Chie menatap sedih pemandangan di depannya.

“Kita takkan melakukan apa pun dengan penindasan di depan itu?”

“Masa depan memiliki jalannya sendiri. Bukan hak kita untuk mencampurinya. Tapi kita memiliki pertempuran kita sendiri, Dya. Di masa kini. Kau ikut?”

Aku tak perlu berpikir. Karena entah bagaimana, aku percaya kata-katanya. Dengan mantap, aku mengangguk.

Chie tersenyum. Diikuti para Apples Ranger lain yang ikut datang menyusul.

Ya, kamilah Apples Ranger, pelindung para hewan peliharaan. Kalian para monster jeruk, bersiaplah menerima kodrat kalian untuk dikalahkan!

image

Meditasi Ampuh Bernama Crafting

Belakangan ini saya memang selalu disibukkan dengan yang namanya skripsi dan bikin alat praktikum. Nggak jarang lho ketika otak sudah mentok dan saya kehabisan akal untuk menjalani tahap selanjutnya, frustrasi menyerang. Yang kemudian mengundang migrain.

Ah, yang namanya migrain itu mah kayak parasit. Menyebalkan sekaligus bikin risih. Otomatislah saya pun bergantung sama obat sakit kepala. Padahal saya nggak suka obat. Praktis, saya harus cari cara lain buat mengganti ketergantungan obat sakit kepala. Lalu, entah hidayah itu datang dari mana, seolah Allah swt mengutus malaikat Jibril untuk menyugesti saya, “Dya, sana bikin sesuatu! Kalau stress jangan molor mulu!”

Kun fayakun. Dan hidayah itu datang dengan cara tak terduga. Tetiba saya sudah di dalam Toko Merah lantai 2 untuk berburu peralatan jahit, kain flanel, dan lem tembak.

Seefektif apa crafting mengusir frustrasi?

Well, buat saya melakukan handwork jenis apa pun di tengah-tengah tumpukan kerjaan kampus itu seperti oase. Selayak hujan yang turun setelah kemarau panjang.

Crafting, secara spesial, seperti menemukan harta karun terpendam yang terkubur tepat di bawah lantai rumah kita tanpa kita sadari. Seperti habis menggali kreativitas yang sebenarnya sudah ada dari dulu tapi nggak pernah disadari keberadaannya. Atau yang lebih pas di saya, seperti habis beberes otak. Refresh. Restart. Reset.

Kemudian semuanya jernih. Tetiba saya bisa melihat dunia dengan lebih jelas. Tetiba skripsi dan proyek bikin alat praktikum menjadi menyenangkan (baca: kucing satu ini sedang terhipnotis untuk menikmati derita–err, kok saya jadi terdengar maso? O.o).

*abaikan**saya nggak maso*

Okay, the last but not the least, time to go back to works on skripshit.

Jya ne… Nanti di postingan selanjutnya saya pamerin hasil crafting saya deh *eciee*

*uhuk*see u next time*uhuk*

[Giok Empat Musim] 1 ~ Kabar Dari Selatan

Pulang. Satu kata yang sangat berarti bagi Xi Xiafang setelah berkelana lama di daerah barat. Bukan berarti gadis muda itu, yang usianya mungkin 16 atau 17, tak ingin melanjutkan perjalanan. Kebetulan melewati Jiangling, ia menyempatkan diri memberi salam kepada ayah angkatnya.

Xi Xiafang baru melewati jalan utama ketika terdengar kegaduhan di kedai yang merangkap penginapan. Ia pun terhenti karenanya.

Dua orang berbadan besar keluar kedai sambil menyeret sesosok laki-laki berbaju biru kumal yang tampak mabuk. Laki-laki itu kemudian dilempar ke jalanan. “Jangan kembali lagi!” seru salah satu pria berbadan berbadan besar mengingatkan. Tetapi laki-laki yang dilempar tadi hanya terkekeh. Merasa diremehkan, pria satunya maju dan mencengkeram baju laki-laki itu. “Tertawa apa, hah? Sudah gelandangan, masih berani minum tidak bayar?! Sepertinya pelajaran yang tadi kami beri masih belum cukup!”

Pria itu menghempaskan kembali laki-laki berbaju biru ke tanah dan hendak menghajarnya lagi. Tak tahan dengan semua itu, Xi Xiafang maju untuk menghentikan mereka. “Hei, laki-laki ini sudah babak belur. Kedua Paman masih mau menghajarnya?”

“Kau gadis cilik jangan ikut campur.”

“Memangnya berapa hutangnya? Biar kubayar.”

Kedua pria bertubuh besar itu saling bersitatap, lalu tertawa. “Anak kecil dekil sepertimu punya uang dari mana?”

Anak. Kecil. Dekil. Tiga kata yang sudah lebih dari cukup untuk membuat Xi Xiafang habis kesabaran. Ia sebenarnya tadi benar-benar berniat membayarkan hutang laki-laki berbaju biru, tapi ia berubah pikiran. Xi Xiafang tiba-tiba tersenyum. “Aih, Kedua Paman jangan menindas gadis kecil sepertiku. Aku kan cuma kebetulan lewat dan ingin menolong. Apa salah? Lagi pula, Kedua Paman membuat keributan di depanku. Nanti menyesal.”

“Menyesal kenapa?”

Tak menjawab, Xi Xiafang bergerak sangat cepat ke hadapan kedua pria yang tampak terkejut itu. Masih tersenyum, Xi Xiafang meneruskan, “karena aku sangat kejam.”

Dengan gerakan yang bahkan lebih cepat lagi, gadis itu berputar ke belakang kedua pria itu dan memukul punggung mereka. Kedua pria itu langsung jatuh tersungkur.

Meski tadi terlihat Xi Xiafang hanya memukul sekali, sebenarnya itu pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan dengan kekuatan dan kecepatan tingkat tinggi. Orang biasa takkan mungkin bisa melihat wujud asli pukulan itu. Tetapi sesosok bertudung di lantai dua kedai bisa melihatnya. Dan ia tersenyum karenanya.

“Tuan Muda, Nyonya menunggu di kamar.”

Suara yang merupakan milik seorang perempuan yang juga bertudung membuat sosok yang dipanggil “Tuan Muda” itu menoleh. Sang Tuan Muda kemudian memalingkan wajah kembali ke arah gadis kecil di jalanan yang sudah mulai menyeret laki-laki berbaju biru menjauhi tempat itu. “Ibu sudah datang?”

“Ya.”

“Katakan pada Ibu kalau kita baru saja menemukan petunjuk. Akan kubawa Xiang’er mengikuti petunjuk itu. Kau segeralah menyusul.”

“Ya, Tuan Muda.”

Si Tuan Muda langsung menjentikkan jari sambil mengibaskan jubahnya. Seketika ia menghilang dalam asap hitam. Perempuan bertudung pun beranjak dari tempat itu, bersiap melapor pada sang Nyonya.

  Baca lebih lanjut

[Review] Novel: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

image

Saya membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan novel yang berwujud kumpulan surat ini karena saya mengambil jeda yang cukup lama antara surat satu ke surat berikutnya. Bukan lantaran novel ini membosankan, melainkan lebih karena setiap suratnya membuat saya berpikir. Dan itu poin plus buat saya yang memang menyukai tipe-tipe novel seperti itu.

Sejak saya membaca sinopsis back cover, impresi yang saya dapatkan adalah ini novel tentang seorang wanita lajang dengan usia terlalu matang yang masih belum bisa move on setelah di-friendzone oleh teman masa kecil yang dicintainya. Saya mulai berpikir ini akan jadi novel full romance yang tragis dan dramatis. Tetapi semakin saya memasuki lembar demi lembar, saya sadar saya sudah tertipu.
Baca lebih lanjut

[Review] Novel: Let Go

Let Go

karya Windhy Puspitadewi

Sinopsis back cover:

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

Review:

Baca lebih lanjut